Wartawan di Pemilu

shares |

Wartawan di Pemilu
Sumber: careernews.id


Selama saya menjadi wartawan pernah beberapa kali dihadapkan pada pilihan untuk tidak netral. Padahal sejatinya wartawan itu tidak boleh memihak.

 Pada pemilu beberapa tahun silam, ada seorang teman bertanya. Pertanyaannya tidak sulit, namun saya butuh beberapa hari untuk memikirkan jawaban apa yang tepat.

"Saya mau nyalon. Kamu dukung saya tidak?" kata temen saya melalui pesan singkat. Sebut saja namanya Dirjo.

 Pertanyaan dalam bentuk pesan singkat itu, tidak langsung saya jawab. Saya biarkan beberapa hari. Buka saya tidak mau menjawab, tapi menurut saya ini adalah ujian netralitas.

"Sombong kamu. Ditempon gak diangkat, SMS juga gak dibalas," sebuah pesan dari teman saya Dirjo kembali membuat saya terhenyak.

"Tinggal ke rumah kita ngopi-ngopi," jawab saya singkat. Tidak ada jawaban dari Dirjo, tapi beberapa jam kemudian pintu rumah saya ada yang mengetuk. Saya tidak bisa berbuat apa-apa ternyata diluar sudah ada Dirjo.

 "Sehat Jo, kamu makin kurus sepertinya. Lama-lama kaya saya," kata saya saat memulai obralan.

"Ah, baru bertemu sudah menghina kamu." Saya dan Dirjo merupakan kawan lama, dia adalah orang organisatoris. Sedangkan saya bukan siapa-siapa. Jalan kita tidak sama. Namun pintarnya Dirjo, dia datang saat musim Pemilu.

 Dirjo memaksa saya untuk menjadi pendukung terselubung. Kalau bukan teman, mungkin sudah saya tendang Dirjo. Namun sayangnya Dirjo teman baik saya.

"Buatlah profil saya di koran mu. Kebetulan kan saya di daerah pemilihan sini. Ajaklah keluarga mu," kata Dirjo.

"Ngomong apa kamu ini Jo. Kamu kan tahu saya ini wartawan masa mendukung calon. Nggak bener itu," jawab saya.

"Nggak bener itu kalau kamu bilang-bilang orang dan teman sesama wartawan. Udahlah kamu jadi pendukung aku saja," katanya sepeti memaksa.

Percakapan kami jadi semakin tidak jelas. Jadi seolah-olah saya tersudut. Saya dipaksa harus mengatakan iya. Untuk mengakhirinya saya putuskan untuk mengatakan tidak.

"Kalau bikin profil mu saya siap. Tapi kalau mendukung saya tidak Jo."

Pemilu selesai, dan Dirjo duduk menjadi anggota DPRD seperti yang dia harapkan. Apakah saya menyesal telah menolak menjadi pendukung Dirjo. Tentu tidak

Apakah Dirjo memutuskan persahabatan dengan saya? Tentu tidak. Karena bagi saya dan Dirjo persahabatan tidak ada kaitannya dengan dukung mendukung.

Dirjo itu orang politik, dia tahu dalam dunia politik itu tidak ada teman dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan diatas segalanya. Jika kepentingannya sama, musuh bebuyutan pun bisa jadi sahabat sejati.

Itulah Dirjo, politisi yang pintar, yang menganggap saya wartawan netral.

Sudah lama saya tidak berkomunikasi dengan Dirjo. Tiba-tiba notifikasi ponsel saya berbunyi. Ternyata ada sebuah pesan WhatsApp dari Dirjo.

"Dulukan kan kata kamu wartawan harus netral. Oke saya paham. Mumpung kamu sekarang jadi bos media Bisa lah dukung saya di Pileg tahun ini," pesan Dirjo ini membuat saya teringat kepada beberapa bos media yang memang memiliki partai.

Ini jangan-jangan Dirjo menyindir saya. Tidak menunggu lama. Saya langsung jawab pesan Dirjo. "Kurang ajar kamu Jo. Tahu aja kalau banyak bos media tidak netral."

Related Posts