Berteman dengan Para Koruptor

shares |


Berteman dengan Para Koruptor

Suatu ketika saya bersepeda dengan beberapa teman saya. Biasa setiap hari Sabtu atau Minggu saya selalu sempatkan bersepeda, lumayan buat jaga kesehatan.

Jangan tanya merek sepeda yang saya pakai apa. Karena saya hanya wartawan lokal, pasti sudah bisa dipastikan sepeda yang saya punya tidak begitu mahal. 

Jika dibandingkan dengan harga sepeda teman saya, mungkin bedanya bisa puluhan kali lipat. Tapi menurut saya soal harga urusan kesekian, yang penting sepeda yang saya punya bisa bergerak jika saya kayuh. 

Mungkin sudah cukup saya membahas soal sepeda, karena jika diceritakan mungkin tidak akan selsai sampai puluhan paragraf. Masih ada hal yang penting dari sepeda.

Berkat konsistensi bersepeda, membuat saya mengenal banyak teman. Dari beberapa teman yang memang sesama wartawan. Sampai teman baru dari berbagai kalangan. Termasuk dari kalangan pejabat.

Berkat pertemanan itu, saya jadi tahu merek sepeda yang paling murah sampai yang paling mahal. Dan saya jadi tahu pula apa kebiasaan mereka setelah bersepeda. Ada yang langsung pulang, ada juga yang mencari tempat nongkrong.

Saya adalah tipe yang harus mencari tempat nongkrong dulu, makan lalu ngopi adalah kebiasaan terorganisir saya dan beberapa teman saat selesai bersepeda.

Jika sedang beruntung, saya bisa bercengkerama, makan dan ngopi dengan pejabat kelas atas. Saat bersepeda saya memposisikan diri sebagai teman bersepeda, lain soal jika saya sedang bekerja.  

Saat makan dan ngopi posisi kami sama, sesama pesepeda. Walaupun beberapa pejabat memang terlihat canggung, tapi saya selalu mencoba terlihat seselow mungkin.

"Makan dulu Lan, cape habis muter-muter. Disini makanannya enak," kata salah satu pejabat. Saya begitu mengenal beliau. Dia memang hobi bersepeda. Sebut saja namanya Komar.

"Saya baru kesini pak. Untung tadi dijalan kita ketemu. Enek nih kayaknya," kata saya sambil mengambil nasi dan lauk pauknya.

"Bagus sepedanya pak," kata saya sambil memakan nasi. Disebelah saya berjejer beberapa pejabat lainnya. Mereka juga terlihat bercengkerama dengan sejawat yang memiliki hobi sama. Bersepeda.

"Wah, ini lumayan Lan. Tapi yang itu lebih bagus tuh, harganya bisa sampai Rp 60 juta lebih," kata Komar sambil menunjuk sepeda milik atasannya. 

Komar memang memiliki jabatan mentereng, tapi dia masih punya atasan. Dan atasannya ada disebelah pojok tempat kami makan. Saya tidak begitu dekat, tapi dia tahu saya adalah wartawan.

Saya sudah sering mewawancarai dia saat berada di kantornya maupun saat di luar. Dia memang selalu terlihat jaga image. Apalagi saat dihadapan wartawan. Tapi saya tahu betul dia adalah pejabat dengan gaji tinggi. Sepedanya saja diatas Rp 60 juta.

"Lan itu teman kamu mau wawancara sama beliau, kamu tidak?" kata Komar.

"Waduh, saya nggak pak." Saya melihat teman saya yang sesama wartawan mendekati atasnya Komar. Kebetulan hari ini dari kalangan wartawan hanya saya dan teman saya yang sekarang mau melakukan wawancara dengan atasannya Komar.

"Apa Lan? Mau wawancara juga?" kata atasannya Komar saat saya dekati. Padahal saya cuma mau pamit. 

"Nggak pak, saya cuma mau pamit. Pulang duluan," jawab saya sambil berjabat tangan. "Hati-hati Lan," katanya.

Saya juga tak lupa pamit sama Komar dan beberapa pejabat lainnya, serta satu wartawan yang hari itu ikuti bersepeda bersama. Acara bersepeda Minggu ini berakhir. Saya kembali pulang.

 ***
Pagi itu mentari masih malu-malu memperlihatkan batang hidungnya. Dingin masih menusuk tulang. Istri sudah tidak ada di kasur. Suaranya terdengar ada di kamar mandi, seperti sedang mencuci.

Sambil mengosok-gosok mata, saya ambil ponsel yang disimpan tidak jauh dari kasur. Tanpa memakai kacamata saya dekatkan ponsel ke mata dan saya liat banyak notifikasi di group WhatsApp dan Facebook.

Saya buka pesan group satu persatu dan saya kaget ada kabar tidak mengenakan. Teman bersepeda saya ditangkap Kejaksaan Negeri terkait kasus Tipikor. Dia Komar, teman bersepeda saya.

"Kang, bapa nunggu akang di kantor," pesan WhatsApp ajudan atasannya Komar yang Minggu kemarin bersepeda bersama.

Sekarang posisi saya ada disalah satu ruangan. Menunggu orang yang menyuruh saya menghadap. Kata orang ini pejabat sulit ditemui, tapi kenapa manggil saya. 

"Sudah lama Lan?" kata atasannya Komar. Sebut saja Joko. 

"Baru sebentar pak," jawab saya.

"Teman kamu ditangkap Lan," kata Joko sambil duduk disebelah saya.

"Maksud bapa?" tanya saya dengan nada serius.

"Iya, teman kamu bersepeda. Bapa lihat kamu akrab banget."

Ternyata maksud dan tujuan Joko memanggil saya ingin mengetahui perkembangan kasus Komar. Saya tidak menduga, ternyata atasan dan bawahan ini tidak begitu dekat. 

Malahan saya yang memang jauh, malah dianggap paling dekat. Padahal saya selalu berusaha memposisikan diri saja. Saat bersepeda Komar teman saya, tapi saat dia menjadi pejabat, Komar adalah narasumber saya. 

Hobi kita memang sama, tapi urusan korupsi saya tidak paham. Kalau sudah korupsi, sedekat apapun saya dengan Komar, pasti dia menjauhi saya. 

Related Posts