Jumat, 09 November 2018

Wartawan di Pemilu

Wartawan di Pemilu
Sumber: careernews.id


Selama saya menjadi wartawan pernah beberapa kali dihadapkan pada pilihan untuk tidak netral. Padahal sejatinya wartawan itu tidak boleh memihak.

 Pada pemilu beberapa tahun silam, ada seorang teman bertanya. Pertanyaannya tidak sulit, namun saya butuh beberapa hari untuk memikirkan jawaban apa yang tepat.

"Saya mau nyalon. Kamu dukung saya tidak?" kata temen saya melalui pesan singkat. Sebut saja namanya Dirjo.

 Pertanyaan dalam bentuk pesan singkat itu, tidak langsung saya jawab. Saya biarkan beberapa hari. Buka saya tidak mau menjawab, tapi menurut saya ini adalah ujian netralitas.

"Sombong kamu. Ditempon gak diangkat, SMS juga gak dibalas," sebuah pesan dari teman saya Dirjo kembali membuat saya terhenyak.

"Tinggal ke rumah kita ngopi-ngopi," jawab saya singkat. Tidak ada jawaban dari Dirjo, tapi beberapa jam kemudian pintu rumah saya ada yang mengetuk. Saya tidak bisa berbuat apa-apa ternyata diluar sudah ada Dirjo.

 "Sehat Jo, kamu makin kurus sepertinya. Lama-lama kaya saya," kata saya saat memulai obralan.

"Ah, baru bertemu sudah menghina kamu." Saya dan Dirjo merupakan kawan lama, dia adalah orang organisatoris. Sedangkan saya bukan siapa-siapa. Jalan kita tidak sama. Namun pintarnya Dirjo, dia datang saat musim Pemilu.

 Dirjo memaksa saya untuk menjadi pendukung terselubung. Kalau bukan teman, mungkin sudah saya tendang Dirjo. Namun sayangnya Dirjo teman baik saya.

"Buatlah profil saya di koran mu. Kebetulan kan saya di daerah pemilihan sini. Ajaklah keluarga mu," kata Dirjo.

"Ngomong apa kamu ini Jo. Kamu kan tahu saya ini wartawan masa mendukung calon. Nggak bener itu," jawab saya.

"Nggak bener itu kalau kamu bilang-bilang orang dan teman sesama wartawan. Udahlah kamu jadi pendukung aku saja," katanya sepeti memaksa.

Percakapan kami jadi semakin tidak jelas. Jadi seolah-olah saya tersudut. Saya dipaksa harus mengatakan iya. Untuk mengakhirinya saya putuskan untuk mengatakan tidak.

"Kalau bikin profil mu saya siap. Tapi kalau mendukung saya tidak Jo."

Pemilu selesai, dan Dirjo duduk menjadi anggota DPRD seperti yang dia harapkan. Apakah saya menyesal telah menolak menjadi pendukung Dirjo. Tentu tidak

Apakah Dirjo memutuskan persahabatan dengan saya? Tentu tidak. Karena bagi saya dan Dirjo persahabatan tidak ada kaitannya dengan dukung mendukung.

Dirjo itu orang politik, dia tahu dalam dunia politik itu tidak ada teman dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan diatas segalanya. Jika kepentingannya sama, musuh bebuyutan pun bisa jadi sahabat sejati.

Itulah Dirjo, politisi yang pintar, yang menganggap saya wartawan netral.

Sudah lama saya tidak berkomunikasi dengan Dirjo. Tiba-tiba notifikasi ponsel saya berbunyi. Ternyata ada sebuah pesan WhatsApp dari Dirjo.

"Dulukan kan kata kamu wartawan harus netral. Oke saya paham. Mumpung kamu sekarang jadi bos media Bisa lah dukung saya di Pileg tahun ini," pesan Dirjo ini membuat saya teringat kepada beberapa bos media yang memang memiliki partai.

Ini jangan-jangan Dirjo menyindir saya. Tidak menunggu lama. Saya langsung jawab pesan Dirjo. "Kurang ajar kamu Jo. Tahu aja kalau banyak bos media tidak netral."
Minggu, 21 Oktober 2018

Berteman dengan Para Koruptor


Berteman dengan Para Koruptor

Suatu ketika saya bersepeda dengan beberapa teman saya. Biasa setiap hari Sabtu atau Minggu saya selalu sempatkan bersepeda, lumayan buat jaga kesehatan.

Jangan tanya merek sepeda yang saya pakai apa. Karena saya hanya wartawan lokal, pasti sudah bisa dipastikan sepeda yang saya punya tidak begitu mahal. 

Jika dibandingkan dengan harga sepeda teman saya, mungkin bedanya bisa puluhan kali lipat. Tapi menurut saya soal harga urusan kesekian, yang penting sepeda yang saya punya bisa bergerak jika saya kayuh. 

Mungkin sudah cukup saya membahas soal sepeda, karena jika diceritakan mungkin tidak akan selsai sampai puluhan paragraf. Masih ada hal yang penting dari sepeda.

Berkat konsistensi bersepeda, membuat saya mengenal banyak teman. Dari beberapa teman yang memang sesama wartawan. Sampai teman baru dari berbagai kalangan. Termasuk dari kalangan pejabat.

Berkat pertemanan itu, saya jadi tahu merek sepeda yang paling murah sampai yang paling mahal. Dan saya jadi tahu pula apa kebiasaan mereka setelah bersepeda. Ada yang langsung pulang, ada juga yang mencari tempat nongkrong.

Saya adalah tipe yang harus mencari tempat nongkrong dulu, makan lalu ngopi adalah kebiasaan terorganisir saya dan beberapa teman saat selesai bersepeda.

Jika sedang beruntung, saya bisa bercengkerama, makan dan ngopi dengan pejabat kelas atas. Saat bersepeda saya memposisikan diri sebagai teman bersepeda, lain soal jika saya sedang bekerja.  

Saat makan dan ngopi posisi kami sama, sesama pesepeda. Walaupun beberapa pejabat memang terlihat canggung, tapi saya selalu mencoba terlihat seselow mungkin.

"Makan dulu Lan, cape habis muter-muter. Disini makanannya enak," kata salah satu pejabat. Saya begitu mengenal beliau. Dia memang hobi bersepeda. Sebut saja namanya Komar.

"Saya baru kesini pak. Untung tadi dijalan kita ketemu. Enek nih kayaknya," kata saya sambil mengambil nasi dan lauk pauknya.

"Bagus sepedanya pak," kata saya sambil memakan nasi. Disebelah saya berjejer beberapa pejabat lainnya. Mereka juga terlihat bercengkerama dengan sejawat yang memiliki hobi sama. Bersepeda.

"Wah, ini lumayan Lan. Tapi yang itu lebih bagus tuh, harganya bisa sampai Rp 60 juta lebih," kata Komar sambil menunjuk sepeda milik atasannya. 

Komar memang memiliki jabatan mentereng, tapi dia masih punya atasan. Dan atasannya ada disebelah pojok tempat kami makan. Saya tidak begitu dekat, tapi dia tahu saya adalah wartawan.

Saya sudah sering mewawancarai dia saat berada di kantornya maupun saat di luar. Dia memang selalu terlihat jaga image. Apalagi saat dihadapan wartawan. Tapi saya tahu betul dia adalah pejabat dengan gaji tinggi. Sepedanya saja diatas Rp 60 juta.

"Lan itu teman kamu mau wawancara sama beliau, kamu tidak?" kata Komar.

"Waduh, saya nggak pak." Saya melihat teman saya yang sesama wartawan mendekati atasnya Komar. Kebetulan hari ini dari kalangan wartawan hanya saya dan teman saya yang sekarang mau melakukan wawancara dengan atasannya Komar.

"Apa Lan? Mau wawancara juga?" kata atasannya Komar saat saya dekati. Padahal saya cuma mau pamit. 

"Nggak pak, saya cuma mau pamit. Pulang duluan," jawab saya sambil berjabat tangan. "Hati-hati Lan," katanya.

Saya juga tak lupa pamit sama Komar dan beberapa pejabat lainnya, serta satu wartawan yang hari itu ikuti bersepeda bersama. Acara bersepeda Minggu ini berakhir. Saya kembali pulang.

 ***
Pagi itu mentari masih malu-malu memperlihatkan batang hidungnya. Dingin masih menusuk tulang. Istri sudah tidak ada di kasur. Suaranya terdengar ada di kamar mandi, seperti sedang mencuci.

Sambil mengosok-gosok mata, saya ambil ponsel yang disimpan tidak jauh dari kasur. Tanpa memakai kacamata saya dekatkan ponsel ke mata dan saya liat banyak notifikasi di group WhatsApp dan Facebook.

Saya buka pesan group satu persatu dan saya kaget ada kabar tidak mengenakan. Teman bersepeda saya ditangkap Kejaksaan Negeri terkait kasus Tipikor. Dia Komar, teman bersepeda saya.

"Kang, bapa nunggu akang di kantor," pesan WhatsApp ajudan atasannya Komar yang Minggu kemarin bersepeda bersama.

Sekarang posisi saya ada disalah satu ruangan. Menunggu orang yang menyuruh saya menghadap. Kata orang ini pejabat sulit ditemui, tapi kenapa manggil saya. 

"Sudah lama Lan?" kata atasannya Komar. Sebut saja Joko. 

"Baru sebentar pak," jawab saya.

"Teman kamu ditangkap Lan," kata Joko sambil duduk disebelah saya.

"Maksud bapa?" tanya saya dengan nada serius.

"Iya, teman kamu bersepeda. Bapa lihat kamu akrab banget."

Ternyata maksud dan tujuan Joko memanggil saya ingin mengetahui perkembangan kasus Komar. Saya tidak menduga, ternyata atasan dan bawahan ini tidak begitu dekat. 

Malahan saya yang memang jauh, malah dianggap paling dekat. Padahal saya selalu berusaha memposisikan diri saja. Saat bersepeda Komar teman saya, tapi saat dia menjadi pejabat, Komar adalah narasumber saya. 

Hobi kita memang sama, tapi urusan korupsi saya tidak paham. Kalau sudah korupsi, sedekat apapun saya dengan Komar, pasti dia menjauhi saya. 
Rabu, 17 Oktober 2018

Wartawan Itu Kerjanya Seperti Apa?


Wartawan Itu Kerjanya Seperti Apa?

Tidak terasa saya sudah hampir tujuh tahun menjadi seorang wartawan. Memang belum begitu lama, namu waktu tujuh tahun itu menurut saya cukup lama dan panjang.

Saya menemukan banyak hal, dari mulai teman sampai jaringan baru. Hingga kebahagian tentunya. Dan yang lebih penting adalah pengalaman yang sangat berharga, dan tidak semua orang mampu mendapatkannya.

Bekerja dibebrapa media sudah saya coba, dari mulai media online hingga media cetak harian lokal. Ya, saya cuma wartawan lokal, besar didaerah dan mengabdi menjadi penyebar informasi ditempat kelahiran saya.

Tidak ada yang sulit menjadi seorang wartawan itu, cuma saya merasakan ada beberapa hal yang memang harus dilewati. Pertama tahap pembelajaran, kedua memberanikan diri dan tahap yang paling penting adalah mau belajar.

Sejauh ini tidak ada indikator wartawan sukses itu seperti apa. Namun saya selalu kagum kepada teman-teman seprofesi yang bekerja dengan sepenuh hati menjadi pengabdi sebagai penyebar informasi. Tanpa lelah, meninggalkan keluarga di rumah.

Ada yang harus dijelaskan kepada publik, terutama tetangga saya, karena selama ini saya belum bisa menjawab dengan gamblang seperti apa kerja wartawan? Jawaban saya sederhana. Menulis.

Namun butuh waktu untuk menjelaskan itu, saat ini hanya istri saya yang paham kerja saya seperti apa. Mereka terutama para tetangga tidak tahu apa-apa. Mereka hanya tahu saya kerja kantoran, dengan jam kerja tidak jelas.

Saya tidak ambil pusing, dan saya tidak mau menjelaskan dengan gamblang jika mereka tidak mendesak saya untuk menjawab. Biarkan mereka menerka sendiri. Namun sudah lama saya ingin mengatakan ini. Kerja saya menulis. Tidak ada yang lain.

Tentunya untuk menulis satu topik berita, saya membutuhkan beberapa bahan, karena sebuah berita yang bagus harus disertai dengan bahan atau data yang lengkap, sehingga layak menjadi sebuah berita untuk disajikan kepada masyarakat.

Cuma yang harus digaris bawahi untuk menjadi seorang wartawan itu harus bisa meramu tulisan sesuai kaidah jurnalistik yang diatur dalam UU No 40 tahun 1999 tentang Pers.

Wartawan juga harus memahami apa yang disebut 5W+1H. Istilah itu diambil dari bahasa Inggris, what, where, when, who, why dan how. Dan jika diartikan menjadi apa, dimana, kapan, siapa, mengapa dan bagaimana.

Saya tidak akan menjelaskan hal ini secara teknis, karena saya malu sama sarjana Fikom dan doktor dibidang ilmu komunikasi. Mereka yang lebih paham, dan memiliki kompetensi untuk menyampaikan itu.

Intinya kerja seorang wartawan itu menulis, harus digaris bawahi tidak ada kerja wartawan selain menulis. Jika dilapangan ada wartawan selain itu, jangan langsung disebut oknum. Usahakan kalau mau menyimpulkan sesuatuharus Tabayyun dulu.